Memilih software ERP bukan soal fitur paling banyak, harga paling murah atau bahkan karena brand ERP nya terkenal. Banyak perusahaan gagal di tahap implementasi bukan karena sistemnya jelek, tapi karena salah memilih ERP sejak awal. Dan juga, jangan langsung percaya dengan ERP yang mahal.
Menurut laporan Panorama Consulting Group (2023), sekitar 38% proyek ERP mengalami pembengkakan biaya, dan hampir 50% mengalami keterlambatan implementasi. Penyebab utamanya bukan teknis, melainkan salah perencanaan dan kurangnya analisis kebutuhan bisnis.
Jadi kalau Anda sedang mencari referensi tentang cara memilih software ERP, artikel ini akan membantu Anda melihatnya dari sudut pandang strategis, bukan sekadar checklist fitur.
1. Mulai dari Masalah Nyata, Bukan dari Demo Sales
Banyak perusahaan langsung minta demo tanpa tahu masalah di internal perusahaan nya sendiri. Akhirnya terpesona tampilan dashboard, tapi lupa apakah sistem tersebut benar-benar bisa menyelesaikan bottleneck operasional.
Sebelum Anda menghubungi vendor, bisa lakukan ini dulu sebagai analisa dasar:
- Identifikasi proses yang paling sering error atau lambat
- Catat pekerjaan manual yang menghabiskan waktu tim
- Hitung biaya akibat duplikasi data atau human error
- Libatkan kepala divisi, bukan hanya tim IT
Menurut pendapat Kami, ERP yang bagus adalah yang menyelesaikan masalah spesifik perusahaan Anda, bukan yang paling populer di pasaran. Jadi pastikan masalah terbesar dan spesifik Anda bisa teratasi dengan ERP tersebut.
2. Pastikan ERP Sesuai dengan Skala dan Industri
ERP untuk perusahaan manufaktur tentu berbeda dengan ERP untuk retail, kesehatan atau bahkan jasa.
Beberapa hal yang perlu dipastikan terlebih dahulu yaitu:
- Apakah sistem sudah memiliki modul sesuai industri Anda?
- Apakah ada studi kasus implementasi di bisnis serupa?
- Apakah vendor memahami regulasi lokal (misalnya perpajakan Indonesia)?
Menurut laporan Gartner, perusahaan yang menggunakan ERP spesifik industri memiliki tingkat kepuasan implementasi lebih tinggi dibanding yang menggunakan sistem generik.
Kalau bisnis Anda masih berkembang cepat, pastikan sistemnya scalable. Jangan sampai 2–3 tahun lagi harus migrasi lagi karena sistem tidak mampu mengatasi masalah yang datang seiring pertumbuhan bisnis.
3. Perhatikan Total Cost of Ownership (TCO), Bukan Harga Awal
Harga lisensi sering terlihat menarik di awal dan banyak yang mengira bahwa itu harga keseluruhan ERP. Salah besar. Biaya ERP bukan hanya lisensi.
Berikut ini beberapa biaya yang sering tidak diperhitungkan:
- Biaya implementasi dan konsultasi
- Training karyawan
- Maintenance tahunan
- Biaya upgrade
- Integrasi dengan sistem lain
Beberapa studi menyebutkan bahwa biaya implementasi bisa mencapai 1,5–3 kali dari harga lisensi awal. Jadi kalau vendor terlihat sangat murah, pastikan Anda memahami struktur biaya jangka panjangnya. Jangan terpancing dengan harga murah diawal.
4. Evaluasi Kemudahan Integrasi
Di era digital saat ini, ERP jarang berdiri sendiri. Biasanya perlu terhubung dengan:
- Software akuntansi
- Sistem HR
- E-commerce
- CRM
- Software gudang

Anda pastikan ERP yang akan dipilih memiliki API yang jelas dan dokumentasi yang baik serta rapi. Integrasi yang buruk akan berdampak pada data terfragmentasi dan justru menambah pekerjaan manual. Bukannya jadi lebih mudah, malah lebih susah.
Baca Juga: Software ERP Terbaik 2026
5. Cek Kredibilitas Vendor
Software boleh bagus, tapi vendor yang tidak responsif & pengalaman nya minim akan sangat menyulitkan.
Anda bisa periksa hal-hal berikut:
- Sudah berapa lama vendor beroperasi
- Jumlah klien aktif
- Testimoni yang bisa diverifikasi
- Tim support lokal atau tidak
- SLA (Service Level Agreement) yang jelas
Menurut pendapat kami, ERP itu bukan pembelian sekali pakai. ERP Ini kerja sama jangka panjang karena sistem ini akan digunakan terus menerus selama masih relevan. Jadi Anda perlu vendor yang stabil dan punya reputasi baik.
Anda bisa percayakan Implementasi ERP dengan Ditama Teknologi Indonesia yang sudah berpengalaman selama 10 tahun. Konsultasi Sekarang.
6. Uji Coba dengan Skenario Nyata
Jangan hanya melihat demo standar dari tim sales. Terkadang itu terasa sangat menakjubkan dan keren.
Coba mintalah beberapa hal dibawah ini agar tidak menyesal di kemudian hari:
- Simulasi alur transaksi sesuai bisnis Anda
- Input data contoh dari perusahaan Anda
- Akses trial untuk tim internal mencoba langsung
Perhatikan respons tim saat menggunakan sistem. Apakah intuitif? Atau justru membingungkan? Ini penting apakah sistem ini cocok untuk bisnis Anda atau tidak.
User adoption adalah faktor penting. ERP secanggih apa pun tidak akan maksimal kalau karyawan enggan atau tidak nyaman menggunakannya.
7. Pertimbangkan On-Premise vs Cloud
ERP saat ini umumnya tersedia dalam dua model:
ERP Cloud
- Tidak perlu server sendiri
- Biaya awal lebih ringan
- Update otomatis
- Cocok untuk perusahaan yang ingin fleksibel
ERP On-Premise
- Kontrol penuh terhadap data
- Bisa lebih aman untuk industri tertentu
- Investasi awal lebih besar
Menurut IDC, adopsi ERP berbasis cloud terus meningkat secara global karena lebih efisien secara operasional. Namun keputusan tetap harus disesuaikan dengan kebutuhan keamanan dan kebijakan perusahaan.
8. Pastikan Ada Roadmap Pengembangan Produk
ERP adalah sistem jangka panjang. Pilih vendor yang punya roadmap pengembangan yang jelas agar nanti nya jika ada masalah baru terkait kebutuhan bisnis, bisa teratasi.
Tanyakan:
- Seberapa sering update dilakukan?
- Apakah ada fitur baru dalam 1–2 tahun ke depan?
- Bagaimana proses feedback dari klien?
Vendor yang stagnan dan tidak aktif melakukan pembaruan berisiko membuat sistem Anda tertinggal. Dan itu cukup merugikan.
9. Hitung Dampak terhadap Produktivitas
ERP yang tepat biasanya memberikan:
- Pengurangan waktu proses administrasi
- Visibilitas data real-time
- Pengambilan keputusan lebih cepat
- Pengurangan kesalahan manual
Beberapa laporan industri menunjukkan implementasi ERP yang berhasil dapat meningkatkan efisiensi operasional hingga 20–30%. Namun angka ini sangat bergantung pada kesiapan internal perusahaan.
Kesalahan Umum Saat Memilih Software ERP
Beberapa kesalahan yang sering terjadi:
- Terlalu fokus harga murah atau mahal
- Tidak melibatkan user sejak awal
- Tidak menyiapkan SOP sebelum implementasi
- Menganggap ERP sebagai solusi instan
- Tidak memilih berdasarkan kebutuhan bisnis
ERP bukan sekadar software, ERP akan mengubah cara kerja perusahaan.
Baca Juga: Perbandingan Odoo vs ERP Lain
Penutup: ERP yang Tepat Adalah yang Paling Relevan
Cara memilih software ERP bukan tentang siapa yang mempunyai branding yang populer, tapi siapa yang paling cocok untuk kebutuhan bisnis.
Anda perlu luangkan waktu untuk audit kebutuhan internal, evaluasi vendor secara objektif, dan siapkan tim sebelum implementasi dimulai.
Keputusan yang terburu-buru bisa berdampak bertahun-tahun ke depan dan ini sangat merugikan. Rugi dari biaya, waktu dan tenaga.
Kalau dilakukan dengan benar, ERP bukan hanya alat operasional. Ia bisa menjadi fondasi pertumbuhan bisnis. Konsultasi Sekarang Gratis.